Menjadi Pemimpin Yang Memberkati

Menjadi Pemimpin Yang Memberkati
Ulangan 28:13 | “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun,  apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia”

 

MENJADI PEMIMPIN

Menjadi “pemimpin” dan memiliki “roh majikan” dibenarkan dalam kekristenan. Karena hanya kepala atau yang di atas atau yang menjadi pemimpin, yang bisa mengalirkan berkat sampai ke bawah. Menjadi pemimpin adalah salah satu cara untuk melaksanakan kebenaran.

Pemimpin adalah saluran berkat kepada yang di bawah kita. 

Kepemimpinan yang kita miliki harus berdasar pada urapan Roh Kudus. Belajar dari Musa, Raja Daud, Raja Saul, mereka mampu memimpin bangsa yang besar apabila Roh Tuhan ada pada mereka. Begitu pula dengan Yesus. Yesus mampu mengajar & menyembukan orang setelah ia diurapi Roh Kudus dan Roh yang memimpin Dia dan pelayanannya. Juga kisah para rasul seperti Simon Petrus atau Kefas, Paulus, dan rasul-rasul lain. Mereka memulai kepemimpinan dan pelayanan mereka setelah Roh Kudus turun atas mereka atau peristiwa Pentakosta. 

 

Lihat pula perkataan Yesus dalam perikop ini.

Matius 23: 10 | “Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.”

Ayat ini berada dalam konteks yang menekankan bahwa Roh Kudus lah yang menjadi sumber kepemimpinan kita. Terlebih lagi, kita harus hidup dipimpin oleh Roh Kudus sebelum kita bisa menjadi pemimpin. 

 

PEMIMPIN YANG EFEKTIF DAN EFISIEN

Pemimpin itu bukan berdasarkan jumlah orang yang dipimpin. Menjadi pemimpin yang berhasil, dapat dipelajari melalui saran mertua Musa, Yitro kepada Musa.

Keluaran 18:14-23Ketika mertua Musa melihat segala yang dilakukannya kepada bangsa itu, berkatalah ia: "Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?" Kata Musa kepada mertuanya itu: "Sebab bangsa ini datang kepadaku untuk menanyakan petunjuk Allah. Apabila ada perkara di antara mereka, maka mereka datang kepadaku dan aku mengadili antara yang seorang dan yang lain; lagipula aku memberitahukan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan Allah."

Tetapi mertua Musa menjawabnya: "Tidak baik seperti yang kaulakukan itu. Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja.

Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau.

Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah. 

Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, dan memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan.

Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang.

Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya.

Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya."

 

 

Dari kisah di atas, dapat dipelajari cara memimpin agar berhasil, yaitu:

 

  1. Pemimpin tidak bisa “one man show” atau mengandalkan satu orang saja, karena melelahkan diri sendiri dan orang yang dipimpin (Kel 18: 17-18)
  2. Seorang pemimpin wajib menjadi “wakil” antara yang dipimpin dengan Tuhan, artinya menjadi penanggung jawab utama, mengikuti maunya Roh Kudus (Kel 18:19)
  3. Langkah-langkah menjadi pemimpin yang efektif:
    1. Mengajarkan ketetapan & peraturan kepada semua yang dipimpin. Artinya “sharing” ilmu dan pengetahuan kepada semua yang dipimpin. Mengajarkan mana yang baik, mana yang tidak, mana yang boleh mana yang tidak boleh, serta membentuk “mindset” yang tepat sesuai maunya Tuhan (Kel 18:20)
    2. Menunjukan cara hidup yang benar, sesuai apa yang diajarkan (Kel 18:20b). Artinya memberi contoh (And you shall teach them the statutes and the laws, and show them the way in which they must walk and the work they must do. NKJV)
    3. Delegasi kepada orang yang “tepat. Delegasi ini adalah “team leader”, “supervisor”, “deputy”, “manager”. Satu orang hanya bisa memimpin maksimal 10 orang. Ciri orang yang tepat: (Kel 18:21)
      • Cakap yang artinya “gesit & mampu mengikuti irama”. Kata yang digunakan dalam Bahasa Ibraninya sama artinya dengan menari.
      • Takut akan Allah
      • Dapat dipercaya
      • Tidak cinta uang
    4. Pengawasan & Tidak boleh malas (Kel 18:22). Tetap seorang pemimpin utama harus menerima laporan pekerjaan delegasinya dan mengambil tanggung jawab terhadap masalah yang lebih besar. Sambil tetap memercayakan masalah yang lebih kecil/ rendah kepada para team leadernya, tanpa perlu terlalu ikut campur. Setiap pekerjaan merupakan tanggung jawab pemimpin dan timya. 
Jika langkah ini diberlakukan, maka kita akan menjadi pemimpin yang efektif dan efisien, serta orang yang kita pimpin menjadi damai sejahtera (Kel 18:23).

 

BAGAIMANA AGAR KITA MENJADI PEMIMPIN?

Pemimpin selalu bicara tentang menjadi yang ”di atas”, yang “terbesar”, yang “paling tinggi”. Apa kata kitab suci tentang seseorang yang “tinggi” dan “ditinggikan”? Kita bisa belajar dari pengajaran Yesus:

 

1. MENJADI PELAYAN & TERENDAH DI ANTARA SEMUANYA

MATIUS 23:10-12 | Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

 

LUKAS 14:7-11 | Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. "

 

MAR 9:33-35 | Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?" Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. 9Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.

 
Dari 3 perkataan Yesus di atas, bahwa seorang pemimpin adalah mereka yang mau menjadi yang terendah. Berbeda dengan konsep dunia bahwa pemimpin harus paling dihormati; Yesus mengajarkan bahwa seorang yang ditinggikan haruslah yang paling melayani.

 

2. LEMAH LEMBUT

ZAK 9:9 | Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.

Rejoice greatly, O daughter of Zion! Shout, O daughter of Jerusalem! Behold, your King is coming to you; He is just and having salvation, Lowly and riding on a donkey, A colt, the foal of a donkey (NKJV)

 

Dalam kitab Zakaria yang menceritakan tentang Mesias, Raja Mesias digambarkan lemah lembut dalam Bahasa Indonesia, namun menggunakan kata “Lowly” dalam terjemahan NKJV. Dalam Ibraninya, menggunakan kata `aniy yang diartikan poor (miskin), humble (rendah hati), dan meek (lemah lembut).

 

MAT 5:5 | Berbahagialah orang yang lemah lembut , karena mereka akan memiliki bumi.

Yesus dengan konsisten mengajarkan, orang yang lemah lembut akan ditinggikan. Hal ini dicatat dalam surat Matius 5:5. Kata yang digunakan adala “praus” yang berarti gentle, mild, seperti memegang seorang bayi.

“Gentleness” atau “meek” ini dicontohkan langsung oleh Yesus saat mengajarkan murid-muridnya sewaktu mereka bertengkar siapa yang terbesar di antara mereka.

LUKAS 9:46-48 | Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, dan berkata kepada mereka: "Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar."

Versi lainnya di dalam kitab Markus

MAR 9:33-37 | Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?" Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya. Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk  anak itu dan berkata kepada mereka: "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.

 

Yesus mencotohkan kelemahlembutan dan kerendahan dengan mengambil seorang anak kecil dan memeluk anak itu. 

Dengan demikian, Yesus mengatakan bahwa jika seseorang yang lemah lembut di dalam Tuhan, ia menyambut Allah. Kelemahlembutan akan membuat kita menjadi pemimpin.

 

3. MEMILIKI TERANG & BERSINAR

MATIUS 5:13-16 | "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang,  supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

 

Garam bicara tentang memberi sukacita. Karena Garam membuat makanan menjadi terasa lebih nikmat dan akhirnya membawa sukacita. Seseorang yang tidak menjadi “garam” atau tidak bisa memberi sukacita akan mendapatkan “punishment” dengan menjadi yang terendah atau direndahkan. Namun, “terang” adalah hal yang berbeda.

Tidak menjadi terang tidak memiliki konsekuensi apapun. Namun jika kita memiliki terang, maka ada insentif yang diberikan: yaitu ditinggikan.

Apakah terang itu? 

Yohanes 1:1-4Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.  Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia

 

Ada kalimat Yesus yang berbicara juga demikian,

Yohanes 8:12 | Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia;barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.

 

Pada kitab Kejadian, pada saat penciptaan di hari pertama Allah menciptakan terang, dan memisahkannya dari gelap

Kejadian 1: 3 | Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi,  itulah hari pertama.

 

Sementara baru di hari keempat, Allah menciptakan benda-benda penerang di langit. Maka "terang" yang dimaksud pastinya tidak ada hubungannya dengan matahari ataupun bintang ataupun bulan. "Terang" yang diciptakan Allah di hari pertama adalah kehidupan dari Allah. "Terang" ada dalam pribadi Yesus sendiri dalam perwujudan Roh Kudus. Menerima terang berarti menerima Roh Kudus yang menghidupkan. Siapa yang menerima Roh Kudus, pasti harus ditinggikan agar bisa menerangi banyak orang. 

 
Kita menjadi pemimpin bukan karena ambisi atau keinginan terhadap kekuasaan. Kepemimpinan yang benar adalah kepemimpinan yang memberkati. Menjadi pemimpin berarti memiliki resource atau sumber daya untuk mengalirkan berkat kepada orang yang di bawah. Untuk menjadi pemimpin yang memberkati, maka Roh Kudus yang harus memimpin kita. 

 

Author:
You Might Also Like
Comments