Ibadah Yang Sejati

Ibadah Yang Sejati

Lukas 1:67-75 | “Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya: "Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya… supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita”

 

Sebagai orang Kristen, kita diwajibkan untuk senantiasa beribadah kepada Tuhan. Di dalam kitab suci kita, kata ibadah identik dengan kata “agama” atau “religion”. Maka dapat kita simpulkan ibadah yang akan kita bahas di sini berkaitan erat dengan seluruh kegiatan keagamaan para pengikut Kristus.

 

Ibadah yang dijalani oleh orang-orang Kristen identik dengan kegiatan mendatangi gereja di hari Minggu atau tengah minggu. Maka di dalam gereja, kegiatan “wajib” ini terbatas pada menyanyikan lagu pujian, mendengarkan kotbah, dan memberi persembahan lalu kita pulang dan melanjutkan kegiatan keseharian kita masing-masing. Hal tesebut tidaklah salah, namun banyak pengikut Kristus ini jadi mengartikan ibadah terbatas pada tata cara peribadatan bahkan pada hal-hal yang bersifat fisik. Padahal kita perlu memahami apakah ini merupakan ibadah yang sesungguhnya di mata Tuhan? Untuk mengetahui jawabannya, maka kita perlu belajar dalam kitab suci.

 

Di dalam pelajaran ini kita akan memahami adanya irisan/ tarikan yang sama dari Kekristenan dan Agama Yahudi. Karena Yesus Kristus awalnya berasal dari bangsa Ibrani dan mengikuti dasar-dasar Agama Yahudi. Kemudian Yesus “melengkapi” makna Hukum Allah atau Torah atau Taurat ke makna yang sesungguhnya. Kemudian pengajaran Yesus ini disebarkan oleh para rasul dan murid-muridnya, yang juga berasal dari Agama Yahudi.  Maka sangatlah wajar jika ajaran dan pengertian dalam Kekristenan memiliki akar yang sama dengan Agama Yahudi. 

 

IBADAH ORANG YAHUDI

Di dalam Nyanyian Pujian Zakharia, seorang Imam Yahudi, saat ia dapat berbicara setelah ia menamai anaknya Yohanes (Lukas 1:67-79), Zakharia bernubuat bahwa Tuhan, Allah Israel telah melepaskan bangsa Israel dari tangan musuh, yang waktu itu adalah bangsa Mesir, dapat beribadah kepada Tuhan tanpa rasa takut, serta dalam kekudusan dan kebenaran di hadapanNya seumur hidup kita. Nubuatan Zakharia ini menjadi penting karena Yohanes Pembabtis, anak dari Zakharia, yang mempersiapkan jalan bagi Yesus.

 

Dalam terjemahan Bahasa Inggris New King James Version, ayat tersebut berbunyi:

 “to rescue us from the hand of our enemies,    and to enable us to serve him without fear in holiness and righteousness before him all our days.”

 Maka di sini jelas bahwa ada dua hal yang penting dalam beribadah kepada Tuhan: Kekudusan (Holiness) dan kebenaran (righteousness).

 

IBADAH DALAM KEKRISTENAN

Bagaimana dengan ajaran Kristen? Kita dapat melihat dalam Yohanes 16, di mana Yesus sedang berbicara tentang Roh Kudus yang akan datang.

 

Yohanes 16:7-8 | “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.  Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman 

 

Dalam versi NKJV-nya: “But very truly I tell you, it is for your good that I am going away. Unless I go away, the Advocate will not come to you; but if I go, I will send him to you. 8 When he comes, he will prove the world to be in the wrong about sin and righteousness and judgment

 

Lagi-lagi ditekankan kembali, kali ini versi Yesus, tentang dosa (sin), kebenaran (righteousness) dan ditambahkan satu poin lagi yaitu penghakitam (judgement).

 

Di dalam surat Efesus 4, di mana Paulus sedang berbicara mengenai “manusia baru”, Paulus juga menyebutkan bahwa,

Efesus 4:22-23 | “supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”

“to be made new in the attitude of your minds; and to put on the new self, created to be like God in true righteousness and holiness” (NKJV)

 

Berkali-kali kitab suci menyebutkan tentang kekudusan dan kebenaran, serta Yesus menambahkan penghakiman dalam ajaranNya. Maka dapat kita simpulkan bahwa ibadah atau kegiatan agama yang diinginkan oleh Allah berbicara tentang 2 hal tersebut.  Mari kita bahas satu persatu.

 

IBADAH DALAM KEKUDUSAN DAN KEBENARAN

 

Dosa dan Kekudusan. Kedua hal ini sangat berkaitan karena kekudusan berarti pengampunan dosa. Bangsa Ibrani mendapatkan pengampunan dosa dengan melakukan korban bakaran dan korban penebus salah (Imamat 4-7), dan hanya dilakukan oleh seorang Imam yang sudah ditentukan Allah. Namun di Ibrani 10 diajarkan bahwa yang diajarkan di dalam Hukum Taurat hanyalah gambaran saja, atau bayangan saja dari apa yang sebenarnya akan terjadi, karena tidak mungkin darah  lembu jantan dan domba jantan dapat menghapuskan dosa (Ibrani 10:4).

 

Kekudusan manusia atau pengampunan dosa manusia didapatkan oleh pengorbanan tubuh Yesus sekali untuk selama-lamanya.

Ibrani 10:5-6| “…Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki--tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku--. Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan.  “ 

 

Ibrani 10:10| “Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus KristusDan ini dilakukan sekali untuk selama-lamanya”

Kelahiran Yesus ke dunia berbicara tentang pengampunan dosa, karena nama Yesus sendiri didesain untuk mengampuni dosa manusia; “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:21)

 

Maka sebagai orang Kristen, kita wajib beribadah dengan percaya Yesus Kristus dan kita sudah dikuduskan dengan percaya nama Yesus. Nama Yesus tidak hanya digunakan untuk memberkati, karena orang Kristen sering menyebut, “Dalam nama Tuhan Yesus, saya diberkati… Dalam nama Tuhan Yesus, saya tidak terlambat…” Namun yang lebih utama adalah Dalam Nama Yesus, dosa saya diampuni dan saya dikuduskan.

 

Kebenaran. Di dalam ayat-ayat Kitab Suci menggunakan Bahasa Indonesia kita sering mendengar kata kebenaran. Pada bahasa aslinya, ada 2 kata yang digunakan aletheia (Yunani) atau “truth” dalam bahasa Inggris, serta tsadiyq (Ibrani) atau dikaiosuné (Yunani) atau righteousness dalam Bahasa Inggris. Kebenaran yang dibicarakan di dalam ayat-ayat ini menggunakan pemahaman yang kedua yang mengandung arti perbuatan sedekah. Singkatnya, Allah menghendaki kita bersedekah dalam beribadah.

 

Di dalam kitab suci, banyak sekali referensi tentang sedekah dan betapa Tuhan sangat menyukai sedekah. Yesus mengajarkan di dalam Lukas 14:13,

“Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar."

Kata orang-orang benar di sini juga menggunakan kata “the righteous” yang mengacu pada perbuatan sedekah.

 

Dalam kisah Kornelius yang dijumpai malaikat Tuhan diceritakan bahwa Allah sangat menyukai doa dan perbuatan sedekah Kornelius,

 

“Di Kaisarea ada seorang yang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan yang disebut pasukan Italia. Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah. Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang,  jelas tampak kepadanya seorang malaikat p  Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: "Kornelius!" Ia menatap malaikat itu dan dengan takut ia berkata: "Ada apa, Tuhan?" Jawab malaikat itu: "Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau” Kis 10:1-4

 

Sebagai para pengikut Kristus yang telah belajar dari kitab suci, kita seharusnya yakin bahwa perbuatan sedekah adalah bagian utama dalam kegiatan keagamaan kita. Bersedekah telah diajarkan oleh Yesus di Matius 6. Dan ternyata di Matius 25:40, Yesus mengajarkan “…sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”. Artinya apabila kita memberi pengampunan, berdoa bagi orang-orang yang menurut kita tidak layak mendapatkan berkat dan doa, kita sudah melakukan sedekah di hadapan Tuhan. Mengorbankan waktu, harta, kesenangan dan segala yang kita punya untuk Tuhan adalah juga perbuatan sedekah kita.

 

Lukas 6:35 |“Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." 

 

Penghakiman. Bagian ketiga ini merupakan akibat dari respon kita terhadap kedua hal di atas. Yesus mengatakan bahwa Roh Kudus juga akan mengingatkan kita tentang penghakiman (Yohanes 16:11). Penghakiman hadir kita kita tidak melakukan kedua hal di atas, kekudusan dan kebenaran. Ilustrasi Yesus tentang penghakiman terdapat di dalam Matius 25:31-45. Di hari terakhir orang-orang benar, the righteous, atau domba-domba, atau mereka yang melakukan perbuatan sedekah, akan berada di sebelah kanan Bapa dan masuk ke dalam kehidupan yang kekal. Sementara kambing-kambing, mereka yang tidak melakukan perbuatan sedekah akan masuk ke dalam tempat siksaan kekal.

 

Dari perikop tersebut kita belajar bahwa membiarkan orang lapar, haus, tidak kudus (telanjang), dan sakit adalah sesuatu yang jahat di mata Tuhan, sekalipun bukan kita yang menyebabkan mereka lapar dan haus. Perbuatan mengasihi sesama adalah sama pentingnya dengan mengasihi Tuhan.

 

KESIMPULAN

Pelajaran ini telah disimpulkan oleh pengajaran Yakobus mengenai pendengar dan pelaku Firman.

 

Yakobus 1:27 | “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.” 

 

Setelah kita belajar, marilah kita bersama-sama melakukan kegiatan keagamaan atau beribadah dengan sikap hati yang baru. Datang ke gereja karena ucapan syukur dan perayaan karena kita telah ditebus, dikuduskan sekali untuk selama-lamanya oleh pengorbanan Yesus, adalah ibadah kita. Mengorbankan waktu dan kesenagan di hari Minggu untuk memuji dan menerima pengajaran adalah sebuah bentuk sedekah kita kepada Tuhan.

 

Dan yang sama pentingnya, perbuatan nyata bersedekah, membantu orang miskin, mengasihi orang lain sama atau lebih dari pada mengasihi diri sendiri dan keluarga, mengampuni, berdoa bagi orang yang hina, adalah ibadah sejati kita kepada Tuhan, Allah kita.

Author:
You Might Also Like
Comments