Hewan Di Alkitab: Domba & Kambing

Hewan Di Alkitab: Domba & Kambing
Domba dan kambing adalah binatang jinak yang bersih, sudah dikenal manusia sejak zaman purbakala. Domba atau kambing patut untuk dijadikan berbagai jenis persembahan (Imamat 22:19, 27), untuk dimakan (Ulangan 14:4) dan termasuk makanan istimewa (Yesaya 22:13). Bulu atau kulit domba diolah untuk pakaian (Ayub 31:20, Ibrani 11:37). Memiliki jumlah domba atau kambing yang banyak menandakan kemakmuran seseorang (Mazmur 144:13).

 

Domba dan kambing dianggap sebagai "satu golongan"

Sebagian besar ayat-ayat dalam Perjanjian Lama, sebagai contohnya di Keluaran 12:5 mengenai tata laksana Upacara Paskah yang pertama bagi bangsa Israel, dinyatakan bahwa baik domba atau kambing boleh diambil sebagai korban Paskah. Demikian pula di Imamat 5:7,7:23, 12:8, 17:3, 22:19, 22:27-28, 27:26 dan juga Bilangan 15:11, 18:17 kata keseb untuk domba dan ez untuk kambing dihubungkan dengan kata “atau” (“ow” dalam Ibrani) yang menunjukkan kesamaan kelas atau tingkatan dalam urusan upacara para Imam tersebut (sebagian besar dari Kitab Imamat yang merupakan petunjuk kegiatan para Imam yang disampaikan oleh Allah kepada umat Israel melalui Musa).

Sebagian besar ayat di Kitab Suci Perjanjian Lama mencatatkan dalam bahasa Ibrani mengenai pembedaan orang di masa dan lokasi tersebut terhadap hewan-hewan peliharaan sejenis lembu sapi yaitu baqar (Ibrani) atau herd (Inggris) dan hewan peliharaan kambing domba yaitu  tson (Ibrani) atau flock atau small cattle (Inggris).  Dengan adanya penggolongan atau grouping hewan peliharaan menunjukan para pemilih dan penggembala di masa dan lokasi tersebut tidak membedakan cara pemeliharaan hewan-hewan yang tergabung dalam satu golongan. Hal ini dapat juga terlihat di Kejadian 47:17 tentang pembedaan empat grup hewan yaitu: kuda,  kambing domba,lembu sapi, dan keledai; dimana kambing dan domba senantiasa masuk dalam satu grup hewan peliharaan pada zaman tersebut.

Kumpulan domba dan kambing (flock)

Bahkan Allah sendiri (misal: Keluaran 20:24, 22:30, 34:3 dan Imamat 1:2, 1:10 dan ayat-ayat lainnya) membedakan golongan kambing domba dengan lembu sapi, dan bukannya membedakan kambing dengan domba secara khususnya.

 

Perbedaan nilai domba dan kambing

Dapat juga disimpulkan bahwa untuk kebanyakan orang yang dianggap mengerti mengenai nilai harta pada saat tersebut dan di lokasi tersebut, seperti Yakub dan Esau (Kejadian 32:13-14), dinyatakan bahwa Yakub mempersiapkan hadiah sangat berharga untuk Esau yaitu dua ratus kambing betina dan dua puluh kambing jantan. Hal ini menunjukkan perbedaan nilai kambing betina dengan nilai kambing jantan.

Yakub mempersembahkan juga dua ratus domba betina dan dua puluh domba jantan pada waktu yang sama, sehingga menunjukkan kesamaan nilai kambing dan domba juga bagi kebanyakan orang di zaman tersebut, meskipun terdapat pembedaan terhadap jantan dan betina bagi kambing ataupun domba. 

Juga di Yehezkiel 27:21 terdapat perbedaan dalam nilai “perdagangan”  antara orang Tirus dengan orang Arab dan para pemuka Kedar, yaitu perbedaan nilai dagang antara anak domba, domba jantan, dan kambing jantan.

Khususnya pada 2 Samuel 12:1-6, mengenai kisah anak domba betina milik orang miskin yang diceritakan oleh Nabi Natan untuk menegor Raja Daud, digambarkan bahwa domba ini dapat dipelihara bahkan seperti anak manusia, yaitu di ayat 3: anak domba itu menjadi besar padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur dipangkuannya seperti seorang anak perempuan baginya. Daud bahkan mengatakan bahwa membunuh anak domba betina tersebut harus dihukum seperti membunuh seorang manusia yaitu harus dihukum mati (ayat 5) dan ganti ruginya pun harus empat kali lipat (ayat 6) karena soal belas kasihan. Demikian domba bisa lebih kuat menjadi objek kasih manusia lebih dari kambing dan hewan lain manapun bahkan dapat dianggap seperti anak manusia sendiri.

 

Perbedaan domba dan kambing dalam kegiatan ibadah bangsa Israel

Tapi khusus untuk korban penebusan dosa, maka nyatalah pembedaan dari Allah langsung yang disampaikan melalui Musa untuk para Imam mengenai domba dengan kambing, bahkan khususnya jantan.

Di Imamat 5:17-18 kata ayil (Ibrani untuk domba jantan yang memiliki juga pengertian kuat atau pemimpin) atau ram (Inggris untuk domba jantan dewasa), yang harus diambil dari kawanan tson (Ibrani untuk kambing domba). Demikian juga di Imamat 6:6 juga terlihat kekhususan domba jantan untuk urusan penebusan kesalahan atau dosa bagi Allah ini. Pada Imamat 9:3-4 juga terlihat lebih lengkap mengenai pembedaan ini: anak kambing dan anak domba, serta anak lembu berumur satu tahun untuk korban bakaran penghapus dosa; sementara seekor lembu dan domba jantan untuk korban keselamatan bagi Allah. Jadi dapat disimpulkan adanya pembedaan khusus antara kambing dan domba, dan selalu terpilih domba dibandingkan kambing untuk urusan penebusan dosa. Demikian juga di Ezra 10:19, dan  Bilangan 7:65, 71, 77, 83, 87, 88 terdapat bukti penegasan perlunya ekstra atau tambahan domba muda atau berumur setahun dengan kesamaan domba jantan dewasa dam kambing jantan dewasa untuk digunakan pada persembahan tersebut secara bersama-sama.

 

Perbedaan domba dan kambing menurut Tuhan

Akan tetapi pembedaan paling tegas antara domba dengan kambing yang dinyatakan oleh Allah dalam hal ini melalui Tuhan Yesus sendiri, terdapat di Perjanjian Baru (Matius 25:32-33 dan 41) yaitu bahwa domba-domba (probaton dalam bahasa Yunani) ditempatkan Tuhan di tempat yang lebih utama yaitu di sebelah kanan dan kambing (eriphion dalam bahasa Yunani yang sebenarnya berarti anak kambing atau kambing muda) di sebelah kiri. Bahkan dengan menyebut “domba-domba” tersebut sebagai yang diberkati oleh Bapa Sorgawi dan layak menerima warisan Kerajaan Sorga yang sudah dipersiapkan dari awal dunia dijadikan, dan Tuhan Yesus menyebutkan dengan tegas kepada yang disebelah kiri yaitu dalam hal ini “kambing-kambing”, untuk menjauh dariNya dan terkena kutuk untuk masuk dalam api kekal yang telah dipersiapkan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.

 

Itulah sebabnya perlu sekali bagi kita para pelajar Kitab Suci untuk bersikap sangat serius sehubungan dengan adanya “kesamaan” antara domba dengan kambing bagi sebagian besar orang banyak maupun dalam sebagian upacara keagamaan seperti yang sudah disampaikan di atas. Juga memperhatikan dengan sangat serius “perbedaan” mendalam antara domba dengan kambing dalam hal penebusan ataupun keselamatan.

 

Perbedaan fisik domba dan kambing

Fisik Domba dan Maknanya secara Alkitabiah

Seperti diketahui bersama bahwa di saat Yesus menyampaikan mengenai perbedaan domba dengan kambing versi Ilahi di Matius 25 tersebut, tentunya belum ada pengetahuan yang cukup untuk mengetahui mengenai perbedaan kromosom makhluk hidup dan juga untuk hal yang lebih sederhana sekalipun, yaitu mengenai perbedaan genus antara keduanya. Di masa modern ini telah diketahui bahwa domba digolongkan dalam genus Ovis dan kambing digolongkan dalam genus Capra, sungguhpun mereka masuk dalam keluarga biologi yang sama yaitu Bovidae dan sub keluarga yang sama yaitu Caprinae. Bahkan terdapat perbedaan jumlah kromosom.Domba memiliki kromosom sebanyak 54 sedangkan kambing 60 kromosom.  Secara fisik dan sifat masing-masing hewan secara alami, tentunya para pemilik ,pedagang apalagi penggembala kambing dan domba dari segala zaman dapat melihat perbedaan sebagai berikut ini:

Fisik Kambing dan artinya secara alkitabiah

  1. Kambing memiliki bulu lurus dan tidak memiliki bulu seperti domba yang dapat diambil manusia sebagai bahan wool.
  2. Warna bulu kambing cenderung lebih banyak macamnya dibandingkan domba yang cenderung berwarna putih. Warna kambing bisa hitam, coklat, putih ataupun abu-abu bahkan kombinasi dari dua warna.
  3. Ekor kambing cenderung menaik keatas sedangkan ekor domba menurun bergantung ke bawah
  4. Kambing cenderung bersifat ingin tahu dan bergerak aktif mengikuti keingintahuannya tersebut, dimana domba cenderung sebaliknya. Dan juga khususnya kecenderungan untuk tidak terpimpin karena adanya keinginan untuk memimpin dirinya sendiri mencari apa yang diinginkannya masing-masing, sedangkan domba memiliki kecenderungan sangat mudah dipimpin dan dipersatukan sebagai satu kawanan dengan satu gembala.
  5. Pola makan kambing yang cenderung memakan tanaman apa saja dan bagian apa saja yang bisa dimakan, baik yang dibawah maupun yang bergantung, sedangkan domba cenderung hanya memakan yang dibawah dan biasanya rumput-rumputan saja.
  6. Kambing memiliki tanduk yang cenderung mengarah ke depan sedangkan domba cenderung memiliki tandung yang melengkung dan tidak mengarah kedepan.
  7. Domba memiliki filtrum yang jelas atau dapat dikatakan sempurna bentuknya. Pada kambing tidak jelas terlihat atau dapat dikatakan filtrum yang tidak sempurna bentuknya. Filtrum (philtrum dalam bahasa Inggris ataupun philtron dalam bahasa Yunani) yaitu lekukan vertical di bagian tengah bibir atas yang umumnya terdapat pada banyak mamalia termasuk manusia. Pada domba, filtrum ini berfungsi untuk menghantarkan cairan atau kelembaban dari mulut (di bagian bawah filtrum) ke hidung (bagian atas filtrum) untuk senantiasa membasahi hidung, dimana hidung yang basah akan memudahkan domba untuk mendeteksi suatu bau dibandingkan hidung yang kering, sehingga adanya filtrum ini membuat domba memiliki indra penciuman yang lebih baik dibandingkan kambing. Pada manusia,  sejak dulu orang Yunani kuno beranggapan bahwa filtrum ini adalah sesuatu yang misterius pada tubuh manusia.  Seorang ahli biologi Dr. Michael Moslet menjelaskan dalam program BBC “Inside The Human Body” bahwa filtrum inilah tempat di mana semua bagian wajah berkumpul dan kemudian menyebar menjadi tiga bagian utama yaitu mata, hidung dan bibir. Filtrum ini ditemukan juga khususnya pada primata di mana primate memiliki filtrum yang lebih memanjang dibandingkan pada manusia. Pada saat ini para ilmuwan atau pakar medis masih belum bisa menentukan apa tujuan spesifik dari lekukan filtrum ini selain “memungkinkan manusia untuk mengapresiasikan lebih banyak gerakan bibir”. Para ahli menyatakan bahwa filtrum ini muncul bersamaan dengan pembentukan hidung dan bibir di dalam Rahim, dimana ada masa dimana janin tidak memiliki bentuk wajah. Dua bagian yang terbentuk dahulu adalah hidung dan bibir termasuk filtrum
  8. Daging kambing untuk diproses sebagai makanan ternyata memiliki kandungan gizi yang baik dan bahkan keburukan yang lebih sedikit daripada daging domba atau bahkan daging hewan lainnya. Peneliti dari Amerika Serikat yaitu Alabama Cooperative Extension System (ACES) yang merupakan riset gabungan Universitas Alabama dan Universitas Auburn di Amerika Serikat telah bekerjasama dalam membangun kesadaran akan secara khusus kebaikan daging kambing ini menyatakan bahwa daging kambing lebih sedikit kadar lemaknya dan memiliki komposisi nutrisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan domba, anak domba bahkan ayam, sapi dan babi. Daging kambing memiliki kadar kolesterol yang lebih rendah dan lemak saturasi yang juga lebih rendah dibandingkan daging merah lainnya. Jumlah lemak pada daging kambing pada ukuran gram yang sama (terukur pada bahan uji 85 gram) hanya 2,6 gram dibandingkan pada daging domba yaitu 8,1 gram. Daging kambing tidak menimbulkan kalori yang berlebihan sehingga daging kambing ini tidak berpotensi menggemukkan dibandingkan daging merah lainnya, yaitu contohnya untuk jumlah gram yang sama, daging kambing mencatat hanya 122 kalori dibandingkan domba (175 kalori) bahkan lebih rendah dibandingkan ayam (162 kalori).

 

Makna

 Hal-hal perbedaan di atas dapat memberikan kepada kita beberapa kesimpulan pembedaan yang memang “seharusnya” antara domba dengan kambing secara rohani sebagai berikut ini:

  1. Kemampuan memberikan "pakaian" atau menguduskan. Kambing secara rohani tidak memiliki sifat memberikan “wool” atau “pakaian” untuk menutupi ketelanjangan atau untuk memberikan kehangatan pada saat kedinginan pada masa hidupnya. “Kambing” bisa memberikan kulitnya sebagai pakaian apabila sudah mati, tentunya demikian juga “domba” ataupun hewan lain apapun, namun disaat masih hidup sepertinya “domba” merupakan hewan yang secara klasik selama ribuan tahun telah dikenal manusia dapat memberikan woolnya untuk bahan pakaian disaat hidupnya bahkan selama hidupnya. “Domba” memiliki suatu kebisaan dan kebiasaan untuk selalu memberikan “pakaian” pada orang sekitarnya yang bisa jadi maksudnya adalah untuk menguduskan dan juga diharapkan memuliakan pemakai “wool” “domba” tersebut, sedangkan “kambing” tidak memiliki sifat dasar kebisaan ataupun kebiasaan untuk memberkati selama hidupnya tersebut tersebut
  2. Kekudusan. Kecenderungan domba yang berwarna putih menunjukkan “kesucian” atau “kebersihan” pada dasarnya, sungguhpun domba yang putih dapat menjadi kotor karena terkena kotoran tapi dengan dimandikan oleh hujan atau air sungai yang bersih akan bisa kembali putih karena memang warna “dasarnya” yang putih. Sedangkan kambing bisa memiliki warna dasar putih juga tapi sebagian besar memiliki kemungkinan warna dasar yang lain yaitu hitam atau coklat atau abu-abu atau bahkan kombinasi dua warna tersebut, dengan kata lain “kambing” pada “dasarnya” memang tidak “putih” atau tidak bersih atau kemungkinan lebih kecilnya untuk menjadi bersih atau suci dibandingkan “domba”. Hal ini memang merupakan sifat dasar pilihan Allah (predestinasi) dari awalnya yang bersifat rahasia pada tiap orang.
  3. Kedagingan. Ekor kambing yang secara umum naik keatas menunjukkan keinginan kedagingan yang tinggi dibandingkan dengan domba dengan ekor yang secara umum turun saja kebawah, karena ekor secara umum melambangkan keinginan “ekor” atau “rendah” atau “sebelah bawah” atau “kehewanan” dalam hal keinginan kedagingan atau dalam kondisi khusus adalah keinginan seksualitas. Dengan demikian kambing melambangkan secara rohani sebagai orang-orang yang memiliki dan mempertahankan bahkan mengembangkan cara berpikir kedagingan atau keinginan-keinginan “ekor” atau “kehewanan” atau sensualitas karena merasa dan berpikir sepenuhnya bahwa hal kedagingan ini merupakan suatu pemberian dari Tuhan dan bagian dari kemanusiaan yang seharusnya tidak ditinggalkan. Padahal sebagai teladan resmi Tuhan Yesus yang tidak menikah dan Yohanes Pembaptis, juga beberapa rasulNya yang dipanggil saat belum menikah seperti Rasul Yohanes, Rasul Paulus dan penulis surat Lukas yang menurut tradisi sejarah gereja tidak menikah seumur hidup mereka dan juga mengajarkan secara tegas hidup kudus secara sensualitas seperti tertera dalam Lukas 20:35-36 mengenai anak-anak Allah yang hidup seperti malaikat yang tidak kawin dan tidak dikawinkan dan tentunya yang lebih terkenal adalah Matius 5:27-29 mengenai dosa perzinahan bahkan melalui mata yang dapat juga menyebabkan siksa api neraka. Juga Paulus menyampaikan di 1 Korintus 7:24-40 agar setiap orang percaya hendaknya tetap tinggal dihadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu dipanggil yaitu maksudnya adalah apabila tidak terikat dalam pernikahan disaat dipanggil menjadi Kristen untuk tetap tidak menikah, tapi dengan sepenuhnya mempertahankan azas kehendak bebas yaitu tidak ada unsur pemaksaan yang hanya akan membuat nafsu kedagingan tertahan yang sia-sia secara rohani pada akhirnya. “Kambing” sepertinya memiliki genetik atau sifat rohani yang selalu mengarah kesensualitasan yang sulit dikuasai, berbeda dengan “domba” yang secara fisik bisa tetap berketurunan tapi tidak memfokuskan diri mereka pada hal kedagingan maupun secara khususnya kesensualitasan.
  4. Mengikuti sang gembala. Secara rohani, “domba” sangat mudah dipimpin oleh satu Gembala Agung yaitu Tuhan Yesus kita, dan sangat bisa untuk diajak bersatu dengan domba-domba lain menjadi satu kawanan rohani yang sungguh bersatu dan tidak saling mendahulukan pentingnya atau kepentingan masing-masing. Sedangkan “kambing” tidak menyukai persatuan tersebut dan senantiasa ingin bebas tanpa kawanan lain dan tanpa pimpinan sang Gembala.
  5. Keadaan merendah. Kecenderungan “kambing” yang selalu ingin makan segala sesuatu yang diinginkannya baik dibawah yaitu rumput maupun tanaman lainnya yang diatas, dibandingkan “domba” yang HANYA makan yang dibawah sehingga sehingga “kambing” tidak bisa menjadi seperti “domba” yang selalu bisa dan biasa mencukupkan diri dengan makan HANYA yang di bawah atau “menunduk” atau merendahkan diri dengan selalu menundukkan kepala sebagai bagian hidup rutin mereka. Adanya kemungkinan dan bahkan kecenderungan untuk menegakkan kepala dan menjadi sulit untuk mempertahankan kepala ke bawah sehingga berpotensi besar untuk meninggikan diri adalah sifat “kambing” yang cukup utama dan sulit ditinggalkan. Kata “tekun” yang dalam bahasa Yunani-nya adalah hupomone yang berarti tetap dalam keadaan merendah seharusnya merupakan salah satu buah Roh yang nyata, yang menjadi sulit dijalankan oleh kerohanian “kambing” ini.
  6. Tanduk. Tanduk “kambing” yang mengarah dan meruncing ke depan dapat menyakitkan dan melukai dan membunuh lawannya, tidak demikian halnya dengan “domba” yang tanduknya tidak “terdesain” untuk menusuk lawannya karena bentuk tanduk domba yang melingkar bahkan bisa mengarah ke domba itu sendiri. Dengan demikian menjadi “domba rohani” adalah juga untuk tidak melawan atau menyerang musuh bahkan tidak didesain untuk punya senjata untuk menusuk sehingga membahayakan pihak lain. Kecenderungan beringas atau marah atau menyerang baik duluan maupun membalas kejahatan dengan kekerasan tidak ada pada “domba” tapi terdapat pada “kambing”.
  7. Kasih. Adanya filtrum yang secara bahasa Yunani sering diartikan peralatan kasih atau love instrument (philtron dari kata philo yang berarti kasih atau kesukaan dan tron yang berarti instrument atau peralatan atau tool atau device dalam bahasa Inggris) tidak jelas terlihat atau sangat sulit terlihat pada “kambing” dan sangat jelas terlihat pada “domba” menunjukkan adanya instrument khusus untuk mengasihi.kemampuan untuk mengasihi pihak lain pada “domba” sangat dekat pada mulut “domba” tersebut. Artinya “domba” memiliki kemampuan khusus untuk memperkatakan yang baik, perkataan yang memberkati, perkataan termasuk doa yang penuh kuasa mengasihi. Hal-hal ini tidak terlihat pada “kambing”. Filtrum yang menempel pada hidung “domba” ternyata memampukan “domba” untuk lebih peka dan mengerti terhadap lingkungan sekitarnya, dimana kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya tidak secara tajam dan kuat dibangun pada “kambing”.
  8. Manfaat. Hal luar biasa mengenai daging kambing sebagai makanan yang jauh lebih baik daripada domba secara rohani memberi implikasi mengenai sangat dramatisnya kegunaan “domba” disaat masih hidup dibandingkan “kambing” dibandingkan di saat sudah matinya. Hal ini harus secara khusus dan serius menjadi bahan pemikiran kita sebagai umat Kristiani yang mengikuti ajaran Tuhan Yesus khususnya mengenai domba dan kambing di Matius 25:31-46 yang sangat serius memberikan pembedaan antara keduanya, bahwa “semasa hidup” kita inilah kita harus sangat memberkati sesama kita, dengan kata lain “domba” atau kita seharusnya sangat berguna pada saat kita hidup sedangkan “kambing” menjadi sangat berguna hanya disaat sudah mati, atau tidak berguna banyak dimasa hidupnya di dunia. Kita sebagai “domba” harus senantiasa memberikan dampak positif pada orang lain atau berguna sebanyak-banyaknya pada saat kita diberi kesempatan hidup di dunia ini. Janganlah menjadi “kambing” yang tidak banyak berguna disaat hidup tapi sangat banyak manfaatnya baru pada saat sudah matinya.

Klik tautan ini, untuk membaca Seri Hewan dalam Alkitab lainnya.

Author:
You Might Also Like
Comments