Hewan Alkitab: Anjing & Babi (Bagian 2)

Hewan Alkitab: Anjing & Babi (Bagian 2)

Setelah sebelumnya kita membahas mengenai anjing dalam Hewan Alkitab: Anjing & Babi (Bagian 1), kita akan melanjutkan pembahasan mengenai hewan babi. 

Dan untuk membaca Seri Hewan dalam Alkitab lainnya, silahkan klik tautan tersebut. 

Gambaran Babi

Larangan memakan babi

Babi jinak yang dipelihara manusia di daerah Palestina kemungkinan berasal dari Sus scrofa, yaitu babi hutan liar dari Eropa dan Asia Barat, di mana Allah melarang orang Israel makan babi di Imamat 11:7 dan Ulangan 14:8 dan dianggap sebagai hewan yang haram karena tidak memamah biak. Secara kesehatan diketahui dalam masa sekarang ini bahwa babi merupakan sarang kuman parasit yaitu cacing pita (Taenia Solium) dan penularan bisa terjadi apabila memakan daging yang sudah dihinggapi kuman tersebut. Cacing pita cepat berkembang biak dalam saluran pencernaan lalu hidup dengan memakan zat makanan yang ada dalam perut manusia atau hewan tempatnya bersarang dan tentunya menimbulkan akibat yang sangat merugikan. Diketahui bahwa cacing pita yang ada pada babi bisa mencapai panjang enam sampai sepuluh kaki.

 

Gambaran klinis manusia yang terserang cacing pita bisa berbeda-beda tergantung dari seberapa banyak cacing pita yang ada di dalam ususnya. Cacing pita dapat hidup di dalam tubuh manusia hingga bertahun-tahun lamanya. Terkadang manusia yang dijangkiti cacing pita seolah tidak mengalami gangguan apapun, kecuali pengeluaran sebagian dari ruas-ruas cacing pita yang terlepas melalui poros usus. Sebagian penderita cacing pita mungkin akan mengalami rasa nyeri yang tajam dan menusuk-nusuk seperti saat lapar, namun akan segera hilang setelah si penderita makan. Anemia hebat bisa terjadi pada manusia yang dijangkiti cacing pita, namun biasanya akan hilang bila cacing itu sudah keluar dari tubuh.

 

Penyakit atau kelemahan yang dapat disebabkan oleh cacing pita dari babi ini adalah anemia yang mengakibatkan kelemahan, letih, lesu, cepat lelah dan mudah mengantuk, sakit kepala, nafsu makan yang tidak tepat, susah buang air besar, diare, rasa gatal pada kulit. Pencegahan utama adalah dengan memasak makanan secara baik dan menghindari konsumsi daging babi sebagai salah satu sumber penyebaran cacing pita ini.

Hewan yang merugikan

Sesuai penjelasan medis di atas, dapat disimpulkan bahwa babi digambarkan sebagai hewan yang bukan saja merugikan bagi yang menkonsumsinya atau secara teologis adalah orang-orang yang menjadi seperti babi dalam perilaku hidup mereka yang akan sangat merugikan diri sendiri, namun juga menjadi sumber kerugian bagi orang banyak disekitarnya yang “berdekatan” dengan mereka atau yang mengikuti pola hidup mereka.

Selain “kejahatan” babi seperti tersebut di atas, dalam pandangan orang Ibrani, babi adalah gambaran orang-orang yang hina dan dianggap najis, contohnya dalam Amsal 11:22, perempuan yang tidak susila diandaikan dengan babi, bahkan Yesus sendiri dalam perumpamaan mengenai anak yang hilang di Lukas 15:15 memberikan gambaran yang dapat diterima oleh para pendengarNya bahwa anak yang hilang tersebut sebenarnya telah tenggelam luar biasa dalam kehinaan atau kerendahan atau kenajisan karena mengurus babi bagi orang kafir bahkan ingin makan makanan untuk babi tersebut. Namun janganlah  pernah kita lupa bahwa Yesus menggambarkan Bapa Surgawi kita sebagai Bapa super mengasihi sehingga mengampuni secara sempurna bahkan sangat berbahagia penuh suka cita luar biasa untuk menerima kembali sang anak hilang dalam akhir perumpamaan tersebut.

Jadi gambaran babi yang sangat hina dan kotor dan merugikan bahkan bukan hanya untuk yang bersangkutan namun juga bagi orang banyak di sekitarnya tersebut tetap saja harus diampuni sepenuhnya apabila menyangkut mengenai pertobatan mereka dan khususnya  kasih Bapa dan Darah Yesus yang sempurna akan menghapus segala “noda” cacing pita dan efek “noda” tersebut dari dalam tubuh penderita.

 

Karakter Babi: Malas & Rakus

karakter babi

Secara tegas perlu kami sampaikan bahwa sifat babi yang dinyatakan di Kitab Suci yang harus betul-betul dihindari adalah kehidupan babi yang sangat gemar makan tanpa henti sehingga terus menerus menggemuk selama masa hidup mereka, akan tetapi babi-babi itu tidak berguna bagi orang-orang disekitar mereka.

Kemalasan dan kerakusan babi merupakan dua sifat dasar yang sangat perlu dihindari oleh anak-anak Allah. Bahkan Kitab Suci memberitahu kita bahwa iblis dan pasukannya (seperti yang disampaikan di Matius 8, Markus 5 maupun Lukas 8) meminta kepada Yesus  untuk diizinkan memasuki kawanan babi yang sedang mencari makan di sekitar tempat itu. Jadi sifat ke”babi”an yang malas dan rakus, yang tidak peduli pada sesamanya sehingga tidak berguna bagi banyak orang adalah merupakan kesukaan tersendiri bagi iblis dan pasukannya.

 

Babi "mirip" manusia

Selama lebih dari 30 tahun terakhir ini secara khusus riset medis sudah sangat mengakui bahwa babi memiliki peran khusus bagi manusia di mana para ilmuwan telah menggunakan babi dalam berbagai bidang kedokteran seperti dalam hal kardiologi, dermatologi bahkan sebagai sumber donor organ. Sungguhpun bila dilihat dari penampilan luar antara babi dan manusia sangat berbeda, namun sistem biologi babi memiliki kemiripan yang luar biasa dengan manusia. Bahkan para ilmuwan berpendapat bahwa mayoritas organ sistem babi punya kesamaan dengan manusia hingga 90% baik dalam hal anatomi maupun fungsi.  Bahkan kemiripan ini meliputi ukuran jantung, paru-paru, pembuluh darah, hati, ginjal, pencernaan, proses metabolik termasuk penyerapan obat, yang tak jauh berbeda dengan manusia.  Fakta lainnya adalah pola makan babi sangat mirip dengan pola makan manusia, juga pankreas babi yang menghasilkan insulin memang sangat menyerupai manusia sehingga sampai dengan tahun 1980 an perusahaan farmasi sangat bergantung pada insulin dari babi untuk suntikan bagi penderita diabetes.  

 

Babi hanya berguna saat sudah mati

Dengan penjelasan di atas mengenai hebatnya babi sebagai organ donor maupun penghasil insulin dan hal lainnya, kita dapat menyimpulkan bahwa babi ini menjadi sangat berguna di saat telah mati. Di saat hidupnya babi tidak dikenal sebagai hewan penjaga, pembajak sawah, teman bermain manusia, bahkan sangat sulit diatur karena sifat ketidakpedulian mereka. Hewan ini baru benar-benar berguna luar biasa disaat matinya.

Dengan demikian kita mengenal konsep teologis praktisnya bahwa orang dengan sifat seperti babi-babi ini tidak berguna bagi orang banyak selama hidup mereka di dunia karena hanya memikirkan diri mereka saja sehingga yang akan didapat mereka pada ujungnya adalah kematian dan bukan keselamatan. 

Kematian babi-babi yang masuk ke dalam danau setelah kerasukan roh-roh jahat dari orang yang memiliki roh legion adalah bukti bahwa kematian adalah keniscayaan dari sifat kebabian tersebut.

 

Karena Yesus menyebutkan secara tegas di Matius 13:45-46Demikian pula hal kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”

Dengan juga melihat Matius 7:6 “…dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya…” menunjukkan bahwa babi tidak bisa menghargai mutiara yang sebenarnya berharga, jadi orang-orang yang disebutkan secara teologis babi dalam penjelasan khusus ini berarti orang-orang yang tidak dapat melihat dan tidak menghargai harta kerajaan sorgawi dan hanya berfokus pada “makan” untuk diri mereka sendiri.

Kerakusan mereka mengumpulkan harta duniawi dan ketidakpedulian (kemalasan) mereka akan urusan sorgawi merupakan sifat dasar “babi” ini secara teologis.

 

Kesimpulan secara garis besar teologis praktis mengenai Anjing dan Babi

Anjing & Babi

Manusia dengan karakter anjing memang selalu ingin berdekatan dengan Tuhan Yesus kita bahkan bisa mendambakan harta dan kerajaan Sorgawi bersamaNya, karena anjing memang hewan yang sangat ingin berdekatan dengan manusia bahkan memiliki pikiran dan perasaan seperti manusia dan telah berguna juga bagi manusia, namun karena ketidak seriusan meninggalkan dosa dan tetap membiarkan diri berdekatan dengan dosanya, bahkan mengijinkan kedekatannya dengan roh-roh asing di dunia, maka mereka akan sangat sulit untuk diterima oleh Tuhan Yesus kita pada saat kedatanganNya.

Sikap nyata kita secara teologis praktisnya adalah mari menolak menerima diri kita sebagai orang-orang yang memang tidak mungkin bebas dari dosa dengan menolak segala dosa dan mengimani sepenuh hati kita bahwa kita benar-benar berasal dari Allah, kita anak-anak Allah yang pasti bisa kudus seperti Allah Bapa kita, bukan anjing yang memang tidak bisa bersih karena natur kesukaannya pada hal-hal yang kotor.

Mari mengimani bahwa kita bisa benar-benar bersih dari dosa karena memang kita anak-anak Allah bukan anak manusia biasa. Dan tolak secara tegas kedekatan apapun dengan dunia roh-roh jahat baik berupa dukun-dukun maupun jimat-jimat. Dan mari minum Darah Yesus sebagai lawan langsung dari sifat keanjingan yang bisa menjilat atau minum darah manusia itu, sehingga dengan iman yang teguh kita akan benar-benar disucikan selamanya.  

 

Babi sangat mirip dengan manusia dalam hal organ bagian dalamnya atau kami menyebutnya jeroannya. Kesamaan manusia dengan babi tersebut membuktikan bahwa kebabian manusia  adalah hal yang sangat mungkin terjadi. Manusia dengan karakter babi yang memang tidak peduli dengan harta sorgawi, tidak peduli pada sesamanya merupakan manusia kebanyakan di dunia ini. Memang tidak banyak orang yang peduli harta sorgawi, peduli nasib orang lain diluar keluarganya sendiri, memang manusia kebanyakan sangat cocok digambarkan dengan babi tersebut. Sehingga perlu bagi kita anak-anak Allah mengambil sikap tegas mengenai melawan natur kebabian kita ini.

Mari kita menolak kerakusan akan harta duniawi kita masing-masing dan juga menolak kemalasan diri kita untuk melakukan segala ibadah rohani, doa, membaca dan merenungkan Firman Tuhan, serta bentuk disiplin rohani lainnya yang mengarahkan focus kita pada harta sesungguhnya yaitu kerajaan Sorgawi bersama Tuhan Yesus kita dalam kehidupan kekal kelak.

Khususnya mengenai kebabian ini, memang sebagian manusia lainnya pun sangat mudah tertular cacing pita dari babi ini sehingga telah menjadi sangat kecacingan dan sangat kotor karena cacing ini. Dengan kata lain kecacingan karena kebabian ini memang sangat mudah menulari orang lain sehingga manusia Kristen satu sama lain memang sangat mudah menjadi duniawi yang tidak peduli harta sorgawi sehingga tidak ingin menjadi berkat bagi orang lain selain bagi keluarga mereka sendiri saja. Namun sungguhpun sudah sangat parah tertular kecacingan karena kebabian ini, kita tetap harus mengingatkan mereka untuk mengambil langkah pertobatan seperti yang telah dilakukan oleh si  anak hilang yang mengambil langkah untuk kembali kepada Bapanya. Langkah teologis praktisnya bagi kita anak-anak Allah adalah selalu mengingatkan bahwa kita masih bisa bertobat, bebas sama sekali dari kecacingan ini melalui pertobatan yang  serius dengan menolak kedagingan atau keduniawian yang salah tersebut dan mau bersatu kembali dengan Bapa Sorgawi kita.

Kasih Bapa dan Darah AnakNya akan melenyapkan segala kecacingan kita, membersihkan kita sempurna dan melayakkan kita menjadi anak-anakNya yang bersih dari segala noda kecacingan tersebut. Itu jelas bisa dan layak diperjuangkan. Amin. 

 

Author:
You Might Also Like
Comments