Hewan Alkitab: Anjing & Babi (Bagian 1)

Hewan Alkitab: Anjing & Babi (Bagian 1)
Dalam Matius 7:6 Yesus menyampaikan: “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu. “

Juga di 2 Petrus 2:22 dikatakan: “Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: “Anjing kembali lagi ke muntahnya dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.”

Khusus mengenai anjing ada lagi masukan tersendiri seperti di Kitab Wahyu 22:15 yang seharusnya merupakan pernyataan Yesus Kristus sendiri sebagai berikut:

Tetapi anjing-anjing dan tukang-tukang sihir, orang-orang sundal, orang-orang pembunuh, penyembah-penyembah berhala dan setiap orang yang mencintai dusta dan yang melakukannya, tinggal di luar.”

Mari kita membahas mengenai anjing terlebih dahulu, baru setelah itu mengenai babi di Hewan Alkitab: Anjing & Babi (Bagian 2)

 

Anjing

Bagi orang Israel di masa penulisan Kitab Suci, anjing sudah dikenal sejak masa kuno sebagai binatang berburu dan binatang peliharaan di rumah, di mana apabila ia tidak bertuan merupakan hewan yang berkeliaran dan makan bangkai busuk (Mazmur 68:24). Hewan ini dipandang najis (Keluaran 22:30) dan membahayakan (Amsal 26:17, Keluaran 11:7) bahkan menjadi kata makian seperti di 1 Samuel 17:43, 2 Samuel 3:8 dan Yesaya 56:10-11. Bahkan juga menjadi ungkapan bagi laki-laki homoseksual (Ulangan 23:19),  serta ungkapan bagi sampah masyarakat (Amsal 26:11).

 

Sifat-sifat anjing yang jelas-jelas dicantumkan di Kitab Suci sebagai sifat sangat negatif tertera sebagai berikut:

  • Binatang yang membahayakan dan merusak (Mazmur 22:17)
  • Galak apabila terluka (Amsal 26:17)
  • Pemakan daging (1 Raja-Raja 14:11, 2 Raja-Raja 9:35,36)
  • Peminum darah (1 Raja-Raja 21:19, 22:38)
  • Mengganggu kota-kota pada malam hari (Mazmur 59:15,16)

 

Pemakan bangkai

Anjing yang secara umum diketahui sebagai pemakan bangkai, tentunya bisa sangat berguna untuk menghabiskan hidangan yang terbuang, sehingga bisa berguna bagi rumah tangga dan dapat masuk menjadi anggota “resmi” suatu rumah tangga bahkan  menjadi teman berburu dan sahabat kesayangan bagi banyak orang. 

Dalam bahasa Ibrani “kelev” dan Yunani “kuon” yang tertera di Kitab Suci PL dan PB sepertinya hewan ini digambarkan secara tegas sebagai anjing setengah liar, yang berkeliaran di luar rumah-rumah menantikan bangkai atau sisa makanan yang akan dibuang.

Kata Yunani lainnya untuk anjing yaitu keuda dan kunarion mengacu kepada anjing yang banyak hidup di dalam lingkungan hidup manusia seperti di Matius 15:27: ”Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Maupun Lukas 16:21: ” ..dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.” Jadi anjing-anjing di sini digambarkan benar-benar tinggal di dalam rumah orang dan diijinkan  berada di sekitar meja tempat makan tuannya.

Filipi 3:2 menyampaikan bahwa anjing-anjing ini adalah merupakan orang-orang yang berada di dalam lingkungan orang percaya namun dapat menajiskan orang-orang yang di dalam lingkungan rumah tersebut.

Rasul Paulus menggunakan kalimat yang sangat keras terhadap jenis “pekerja-pekerja” internal tersebut yaitu:

Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu,”

 

Ingin dekat dengan tuannya

Secara umum anjing merupakan hewan yang ingin sekali dekat dengan tuannya (yaitu manusia) dan ingin berbakti kepadanya, menyenangkan tuannya tersebut dan pada dasarnya mendambakan kebersamaan dengan tuannya itu. Anjing dapat makan dan minum apa saja yang tuannya makan juga minum asalkan tidak terlalu “panas” ataupun “pedas”. Sebagian dari anjing-anjing ini sangat menikmati apabila dibersihkan oleh tuannya baik dengan dimandikan bahkan di”salon”kan.  Namun karena sifat dasar  (natur) anjing anjing  yang memiliki penciuman  sangat tajam, khususnya untuk benda-benda yang berbau busuk atau amis sehingga membuat anjing-anjing tersebut tidak dapat menahan dirinya untuk menemukan, menyentuh, menggigiti dan memakan “barang” yang berbau “menarik” tersebut.

Secara garis besar anjing-anjing dalam pemikiran teologis dapat kami berikan penekanan seperti pada orang-orang yang senang sekali datang ke gereja di hari Minggu atau hari ibadah lainnya, di mana pada  tempat dan saat tersebut sangat intim dengan Tuhan dalam doa, renungan dan Firman, bahkan seringkali bisa saja memberikan tangisan rohani yang positif.

Karena pada dasarnya kata menyembah dalam bahasa Yunani proskuneo  yang merupakan turunan kata dari pros yang berasal dari kata pro dan kuon yang berarti anjing. Sehingga proskuneo atau menyembah berarti seperti anjing yang mencium tangan tuannya.

anjing mencium tangan tuannya

Namun dalam kesehariannya seperti anjing yang dimandikan sehingga sangat bersih bulu badannya, mulutnya pun dibersihkan dengan sikat dan pasta gigi yang seperti tuannya, makan makanan yang persis seperti makanan tuannya, namun apabila dilepaskan secara bebas dan mulai menjauh dari tuannya, maka anjing secara kebiasaan atau kita sebut sebagai natur/ sifat alamiahnya akan segera mencari sumber “bau” yaitu tempat sampah basah berisi bekas makanan atau bekas barang-barang berbau tajam, busuk, amis lainnya dan mulai “bergumul” dengan benda-benda “najis” tersebut. Dan ia akan menjadi sangat sulit dipisahkan dari “benda-benda najis” tersebut kecuali dilakukan dengan unsur paksaan.

Jadi anjing-anjing ini dapat diibaratkan sebagai manusia yang ingin menjilat tangan tuannya, yang ingin kudus seperti arahan tuannya yaitu orang-orang yang tahu persis maunya Tuhan Yesus yaitu menguduskan mereka, dan berhasil dekat dengan tuannya tersebut di saat-saat ibadah baik harian, mingguan, jam-jam tertentu, namun dalam kesehariannya di luar waktu ibadah mereka tersebut, mereka kembali ke “muntah” mereka sendiri, mencari benda-benda (hal-hal) yang menajiskan mereka dan setelah itu menyesal, lalu ingin kembali ke pangkuan tuannya lagi, ingin kudus kembali supaya bisa berdekatan dengan Tuhan Yesus yang kudus tersebut.

Bolak-balik seperti itu terus menerus hampir di seluruh hidup mereka.

 

Tidak suka dengan makanan panas dan pedas

Salah satu ciri tambahannya adalah ketidaksukaan mereka pada makanan yang panas ataupun pedas yang bermakna teologis ketidaksukaan mereka secara langsung pada Firman yang jelas-jelas menegor mereka dengan mengajarkan kekudusan,

karena bagi mereka hal itu merupakan kemunafikan belaka dan tidak dapat benar-benar terjadi dalam hidup mereka. Terlalu serius bicara kekudusan dan penegoran agar orang hidup kudus bukanlah pilihan pengajaran Firman Allah bagi mereka yang disebut “anjing-anjing” ini.

Itu sebabnya Yesus sendiri menyampaikan di Wahyu 22:15, bahwa anjing-anjing tidak mendapat tempat di kerajaan sorga dan karena ayat ini merupakan penekanan dari Wahyu pasal sebelumnya khususnya Pasal 21:8, bahwa bukan tidak dapat masuk ke dalam kerajaan sorga di sini maksudnya adalah di pelataran sorga, namun lebih tepatnya adalah tidak dapat masuk ke dalam hidup kekal atau disebutkan sebagai kematian yang kedua. Maka kita tidak dapat menganggap remeh keseriusan Tuhan Yesus kita yang telah menyampaikan bahwa anjing-anjing ini akan masuk ke dalam kematian yang kedua yaitu penghakiman dan penghukuman berupa siksaan api kekal  yang menderitakan mereka.     

 

Menjilat darah manusia

Yang menjadi tambahan lain secara khusus mengenai anjing ini adalah mengenai soal menjilat darah manusia, di mana dalam 1 Raja-Raja 21:19 dikatakan

“Katakanlah kepadanya, demikian: Beginilah firman TUHAN: Engkau telah membunuh serta merampas juga! Katakan pula kepadanya: Beginilah firman TUHAN: Di tempat anjing telah menjilat darah Nabot, di situ jugalah anjing akan akan menjilat darahmu.”

Karena Kitab Suci mengajarkan kita secara serius sekali bahwa darah seseorang bahkan hewan sekalipun mengandung nyawa orang tersebut di dalamnya seperti di Kejadian 9:4-5 maupun contoh tegasnya di Imamat 17:11: “Karena nyawa mahkhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezabh untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa.” Bahkan dikuatkan di ayatnya ke 14: “Karena darah itulah nyawa segala makhluk. Sebab itu Aku telah berfirman kepada orang Israel: Darah mahkluk apa pun janganlah kamu makan, karena darah itulah nyawa segala makhluk: setiap orang yang memakannya haruslah dilenyapkan.”

Dengan demikian anjing yang digambarkan secara Kitab Suci sebagai peminum darah ini sangat melawan perintah Tuhan dan harus dilenyapkan karena masalah besar soal minum darah ini.

Mengingat apa yang difirmankan secara tegas sebagai keputusan sidang Yerusalem di Kisah Para Rasul 15:28-29 berikut ini:

Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini: kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat.”

Hewan yang mati dicekik berarti dagingnya masih mengandung darah dan dalam pesan Roh Kudus ini, kita harus menjauhkan diri dari darah.

Sifat keanjingan pada manusia yang perlu diwaspadai secara khusus secara teologis dan praktisnya adalah kesukaan orang-orang pada bentuk kenajisan rohani yaitu persatuan dengan roh-roh jahat karena darah berkorelasi dengan nyawa atau roh dari yang punya darah. Padahal hanya Darah Yesus saja yang harus kita terima dari Allah, tidak boleh ada darah yang lain yang masuk ke dalam tubuh kita.  

Pesan Allah dalam hal ini sangat jelas yaitu jangan menjadi seperti anjing-anjing ini. Bahkan seperti yang tertera pada Matius 7:6, Yesus sendiri menekankan bahwa anjing-anjing ini tidak layak untuk menerima bagian kekudusan dari Allah yaitu menerima Roh Kudus yang dijanjikan.

Untuk itu, apabila anda merasa ada bagian dari diri anda yang begitu mirip dengan natur anjing ini, silahkan berdoa dengan serius (mengutamakan) untuk meninggalkan 100% (sepenuhnya) sifat atau natur ke”anjing”an anda dan percaya bahwa ketidakkudusan kita pasti kalah telak dengan kemahakudusan Tuhan Yesus khususnya menggunakan sarana yang terbaikNya yaitu baptisan dewasaNya, Perjamuan KudusNya, dan Minyak SuciNya.

Doa serius  yang kami maksudkan adalah untuk mengutamakan terlebih dahulu kekudusan dan keterbebasan dari natur keanjingan tersebut dibandingkan dengan mengutamakan kesehatan atau kekayaan.

Silahkan klik Seri Hewan dalam Alkitab jika ingin mempelajari hewan-hewan lainnya menurut sudut pandang Kitab Suci. 

 

Author:
You Might Also Like
Comments